22 Februari 2017

Profesor Atheis vs Siswa Beriman


Berikut ini saya tampilkan kisah yang cukup populer di Barat. Kisahnya adalah mengenai seorang profesor filsafat yang atheis saat tengah membahas permasalahan yang ada dalam ilmu sains tentang Tuhan. Dalam sejumlah kesempatan, profesor ini amat gemar mengeluarkan argumen-argumen tentang ketiadaan Tuhan. Dia selalu mencoba meyakinkan kepada para siswa didiknya bahwa Tuhan itu tidak ada. Dalam sebuah sesi pengajaran, dia meminta salah seorang siswanya untuk berdiri dan diajak berdialog tentang ketuhanan:

Profesor:
Apakah kamu seorang beragama?

Siswa:
Ya, Pak.

Profesor:
Kamu percaya Tuhan?

Siswa:
Tentu saja, Pak.

Profesor:
Apakah Tuhan baik?

Siswa:
Pasti.

Profesor:
Apakah Tuhan itu Maha Kuasa?

Siswa:
Tentu.

Profesor:
Kakak saya meninggal karena kanker padahal dia berdoa agar Tuhan menyembuhkannya. Kebanyakan dari kita akan berusaha menyembuhkan sesama kita yang sakit. Tetapi Tuhan tidak. Apakah ini berarti Tuhan baik? Hmm?

Siswa:
(terdiam)

Profesor:
Kamu tak dapat menjawabnya, khan? Mari kita ulangi lagi, Anak Muda. Apakah Tuhan baik?

Siswa:
Ya.

Profesor:
Apakah setan baik?

Siswa:
Tidak.

Profesor:
Setan berasal dari mana?

Siswa:
Dari Tuhan.

Profesor:
Itu betul. Katakan padaku, apakah ada setan dan kejahatan di dunia ini?

Siswa:
Ya.

Profesor:
Kejahatan ada di mana-mana, betul? Dan Tuhan menciptakan segalanya. Benar?

Siswa:
Benar, Pak.

Profesor:
Jadi siapa yang menciptakan kejahatan?

Siswa:
(tidak menjawab)

Profesor:
Adakah penyakit? Kemerosotan moral? Kebencian? Kejelekan? Semua hal-hal buruk ini ada di dunia, benar?

Siswa:
Iya, Pak.

Profesor:
Jadi, siapa yang menciptakan itu semua?

Siswa:
(kembali terdiam)

Profesor:
Ilmu pengetahuan mengatakan manusia memiliki 5 indera untuk mengidentifikasi dan mengamati lingkungan sekitarnya. Katakan padaku, “Apakah kamu pernah melihat Tuhan?”

Siswa:
Tidak, Pak.

Profesor:
Ceritakanlah, apakah kamu pernah mendengar Tuhanmu?

Siswa:
Tidak, Pak.

Profesor:
Apakah kamu pernah merasakan Tuhanmu, mengecap Tuhanmu, mencium Tuhanmu? Apakah kamu pernah mengalami keberadaan Tuhan melalui segala persepsi inderamu?

Siswa:
Tidak, Pak. Saya belum pernah mengalaminya.

Profesor:
Tetapi kamu masih mempercayai-Nya?

Siswa:
Ya.

Profesor:
Berdasarkan kaidah pengamatan, pengujian, serta pembuktian ilmu pengetahuan, maka Tuhanmu dinyatakan tidak ada.
Apa pendapatmu?

Siswa:
Tidak ada. Saya hanya memiliki Iman saya.

Profesor:
Ya. Iman, dan itu adalah permasalahan terbesar bagi ilmu pengetahuan.

Setelah sang profesor puas dengan pernyataannya, tanpa diduga tiba-tiba sang siswa malah berbalik mengajukan pertanyaan:

Siswa:
Profesor, apakah panas itu ada?

Profesor:
Ya.

Siswa:
Dan apakah dingin itu ada?

Profesor:
Tentu saja ada.

Siswa:
Tidak, Pak. Dingin itu sebenarnya tidak ada.

Ruang kuliah itu menjadi sangat sunyi saat Sang Profesor mulai tersudut oleh pertanyaan siswa ini.

Siswa:
Pak, Anda dapat memiliki beberapa jenis panas, seperti panas biasa, sangat panas, super panas, agak panas, atau bahkan keadaan tanpa panas. Tetapi tidak ada yang namanya dingin. Kita dapat menempuh minus 458 derajat celcius di bawah nol, yaitu keadaan tanpa panas, tetapi kita tidak dapat melampaui dari batas itu. Dingin itu tidak ada. Dingin hanyalah perkataan yang kita gunakan untuk menggambarkan suatu keadaan di mana tidak ada panas. Kita tidak bisa mengukur dingin. Panas adalah energi, dingin bukan. Dingin bukanlah kebalikan dari panas, Pak, melainkan hanya suatu keadaan di mana tidak ada panas.

Siswa lainnya terdiam tanpa sepatah katapun.

Siswa:
Bagaimana dengan kegelapan, Profesor? Apakah kegelapan itu benar-benar ada?

Profesor:
Ya. Apalah artinya malam bila tidak gelap?

Siswa:
Anda salah lagi, Pak. Kegelapan adalah sebutan kita mengenai tidak adanya cahaya. Anda bisa membuat pencahayaan rendah, pencahayaan normal, pencahayaan terang, pencahayaan yang berkedip, Tetapi bila Anda secara konstan tidak memiliki pencahayaan, Anda tidak melihat apa-apa dan itulah yang disebut dengan kegelapan, bukankah begitu? Pada kenyataannya memang demikian. Buktinya adalah Anda tidak akan dapat membuat sebuah keadaan gelap menjadi lebih gelap lagi.

Profesor:
Jadi apa sebenarnya yang hendak kamu maksud, anak muda?

Siswa:
Pak, maksud saya adalah dasar logika Anda kurang tepat.

Profesor:
Kurang tepat? Bisakah kamu jelaskan?

Siswa:
Pak, Anda mengajar kami dengan dualitas. Anda berargumen tentang adanya kehidupan lalu mengajar tentang adanya kematian, adanya Tuhan yang baik dan Tuhan yang jahat. Anda memandang Tuhan sebagai sesuatu yang dapat kita ukur. Pak, ilmu pengetahuan saja bahkan tidak dapat menjelaskan mengenai sebuah pemikiran. Dalam ilmu pengetahuan, kita memang menggunakan listrik dan magnet, tetapi tidak pernah ada seorangpun yang melihat atau benar-benar memahami salah satunya. Untuk menilai kematian sebagai kondisi yang berlawanan dengan kehidupan sama saja dengan melupakan fakta bahwa kematian tidak bisa muncul sebagai suatu hal yang substantif. Kematian bukanlah kontradiksi dari hidup, Kematian hanyalah keadaan di mana tidak adanya kehidupan. Sekarang katakan padaku, Profesor. Apakah Anda mengajarkan siswa-siswa Anda bahwa mereka berevolusi?

Profesor:
Jika yang kamu maksudkan adalah proses evolusi alami, ya, tentu saja, aku mengajarkannya.

Siswa:
Apakah Anda mengamati evolusi itu dengan mata Anda sendiri, Pak?

Profesor:
(menggelengkan kepala dan tersenyum, karena tampaknya ia mulai menyadari arah pembicaraan ini.)

Siswa:
Mengapa demikian? Karena tidak seorang pun pernah mengamati proses terjadinya evolusi, bahkan tidak dapat membuktikan ketika proses ini tengah berlangsung. Apakah sekarang ini Anda tengah mengajarkan pendapat pribadi Anda? Jadi sebenarnya Anda ini seorang ilmuwan atau penceramah?

Suasana kelas menjadi gaduh

Siswa:
Apakah ada dari kelas ini yang pernah melihat akal Profesor?

Suara tawa para siswa memenuhi ruang kelas itu.

Siswa:
Apakah ada orang yang pernah mendengar akal Profesor, merasakannya, menyentuhnya atau menciumnya? Tampaknya tak seorang pun pernah melakukannya. Jadi, berdasarkan kaidah pengamatan, pengujian, serta pembuktian ilmu pengetahuan, maka dinyatakan bahwa Anda tidak punya akal, Pak. Dengan segala hormat, bagaimana mungkin kami dapat mempercayai pengajaran Anda kalau demikian adanya?

Ruangan itu sunyi. Sang profesor menatap siswa ini, wajahnya menunjukkan dia tidak menduga siswa ini akan berkata demikian.

Profesor:
Jangan-jangan kamu hendak menyampaikan tentang konsep iman, Nak!

Siswa:
Betul, Pak. Yang menghubungkan antara manusia dan Tuhan adalah Iman. Itulah yang membuat segala sesuatunya bergerak dan hidup sampai saat ini.

***

Demikianlah kisah ini. Harapan saya melalui sharing kisah ini adalah semoga keyakinan kita sebagai orang beragama tentang adanya Tuhan semakin mantap. Ini membuktikan bahwa dari sudut pandang disiplin ilmu apapun, kebenaran Tuhan tetaplah mutlak.
Share:

0 komentar:

Poskan Komentar

Lisensi Creative Commons
Konten ini dapat disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4.0 Internasional.