22 Februari 2017

Kalo Manusia Tidak Sempurna, Mengapa Perlu Menyempurnakan Diri?


Pada suatu ketika, seorang siswa di tempat saya mengajar bertanya kepada guru agamanya. Kebetulan saat itu saya sedang berada satu ruangan dengan mereka, sehingga mendengarkan pembicaraan guru dan murid tersebut.

“Miss. Saya pernah mendengar pernyataan ‘Practice Make Perfect (berlatih menjadikan sempurna)’, tetapi bukankah ‘No Body Perfect (tidak ada orang yang sempurna)’, jadi ‘Why Bother to Practice (kenapa kita harus bersusah-payah latihan)'”

Saya pun cukup tercengang mendengar pertanyaan tersebut. Seorang siswi SMP bisa berpikir demikian, sementara saat SMP mungkin saya cuma bisa memikirkan bagaimana caranya menarik perhatian cewek idola saya. Jika pada usia yang sama saya diajukan pertanyaan demikian, 99,9 persen saya yakin nggak bisa menjawab pertanyaan tersebut. Namun itu ketika saya SMP. Saat tulisan ini dibuat, sudah 14 tahun lamanya berlalu masa SMP saya. Dengan waktu selama itu sayapun sudah merasa mendapatkan jawaban dari pertanyaan tersebut.

Seandainya siswi tersebut memahami pertanyaannya, seharusnya ia sudah bisa menjawabnya sendiri. Pertanyaan tersebut kalau disederhanakan menjadi: “Kalau tidak ada manusia yang sempurna, mengapa kita harus menyempurnakan diri?” Jawabannya adalah: “Justru ketidaksempurnaan manusia lah yang membuat manusia merasa perlu menyempurnakan dirinya.”

Dalam kehidupan, ketidaksempurnaan manusia menjadikan hidup ini menjadi lebih indah. Atau lebih tepatnya adalah memberikan kita alasan untuk tetap hidup. Seorang pelajar yang terus belajar, pasti karena dia yakin kalau dirinya belum cukup pintar untuk lulus ujian. Seorang ayah yang bekerja keras, pasti karena dia tahu kekayaannya belum cukup untuk menafkahi keluarganya bila ia berhenti bekerja. Seorang gadis cantik yang gemar berdandan, pasti karena dia merasa bahwa dirinya tidak cukup cantik jika tidak berdandan. Seseorang yang doyan makan, pasti karena dia tahu makanannya tidak akan mampu membuat dia cukup kenyang sehingga tidak memerlukan makanan lagi.  Seorang ibu yang selalu berulang-ulang mencuci baju anaknya, pasti karena paham bahwa baju yang dicucinya tidak akan pernah bisa sempurna untuk tidak kotor lagi. Seorang ilmuwan yang terus meneliti, pasti karena dia menyadari bahwa penelitiannya tidak akan pernah cukup sempurna untuk membuatnya berhenti meneliti.

Hal yang bertentangan justru terjadi kalau semuanya sudah sempurna. Kalau sudah merasa pintar maka belajar sudah tidak diperlukan. Kalau sudah merasa kaya, maka bekerja sudah tidak diperlukan. kalau sudah merasa cantik, maka salon, sisir dan make up sudah tidak diperlukan. Kalau sudah merasa kenyang, maka makanan sudah tidak dibutuhkan. Kalau sudah merasa bersih sempurna, maka mencuci sudah tidak diperlukan. Dan kalau semua penelitian sudah sempurna, maka tidak perlu lagi ada sekolah, universitas, pendidikan, dsb yang nantinya tidak ada pelajar, mahasiswa, guru, dosen, ilmuwan, pekerja, pemimpin, dsb.

Intinya adalah “Kalau seseorang sudah sempurna, maka penyempurnaan sudah tidak diperlukan lagi. Itu artinya sudah tidak ada lagi alasan bagi seseorang untuk tetap hidup.”

Imam Syafi’i pernah berkata, "Seseorang yang memiliki pengetahuan sejati pasti akan semakin merasa bodoh. Mengapa? Karena ia mampu mengetahui di mana letak kebodohannya."

~ Kesempurnaan adalah milik Tuhan. Manusia adalah tempatnya salah dan lupa. ~
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Lisensi Creative Commons
Konten ini dapat disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4.0 Internasional.